13 Mei 2012

Hikmah Puasa di Bulan Ramadhan (Sesi 6)



Muslimin dan muslimat yang berbahagia. Tujuan utama diwajibkannya puasa di bulan Ramadlan ini, sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Allah swt, ialah "la'aalakum tattaquun" agar kalian bertakwa. Orang-orang yang bertakwa memiliki derajat yang sedemikian tinggi dan mulia di sisi Allah, sehingga banyak sekali pujian yang diberikan kepada mereka ini. Diantaranya ialah firman Allah swt dalam suratr Az-Zumar, Ayat 73:

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا

حَتَّى إِذَا جَاؤُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

"Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka, dibawa ke dalam surga berombong-rombongan. Sampai ketika mereka mendatanginya, pintu-pintunya dibuka dan para penjaganya berkata kepada mereka, "Kesejahteraan bagi kalian. Berbahagialah dan masuklah ke dalamnya untuk selama-lamanya."

Untuk itu marilah kita berusaha dengan sungguh-sungguh, meningkatkan amal ibadah kita di bulan suci ini, dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk hidup kita selanjutnya. Artinya, setelah kita berhasil meningkatkan amal ibadah kita di bulan ini, maka yang demikian itu kita pertahankan, bahkan kita tingkatkan lagi di bulan-bulan selanjutnya. dengan demikian, insya Allah kita akan digolongkan ke dalam orang-orang yang bertakwa, dan akan dimasukkan ke dalam surga, kekal selamanya.

Diantara keutamaan bulan Ramadlan ialah diturunkannya beberapa kitab suci di bulan ini. Kitab suci Nabi Ibrahim, yang di dalam Surat Al-A'la Ayat 18 dan 19, disebut sebagai "Shuhuf Ibrahim", diturunkan di malam pertama bulan Ramadlan. Sedangkan kitab suci Taurat diterima oleh Nabi Musa as di hari keenam bulan Ramadlan, di bukti Thursina. Pada tanggal 13 bulan ini pula, Nabi Isa as menerima Injil. Pada akhirnya, di bulan Ramadlan pulalah, penutup segala Nabi, Rasul Allah Muhammad saww, menerima untuk pertama kalinya menerima Ayat-Ayat suci Al-Quranul Karim.

Berdasarkan pendapat para ahli sejarah, semua agama samawi memiliki ajaran yang mewajibkan puasa. Ayat 183 Surat Al-Baqarah juga menegaskan bahwa umat-umat terdahulu pun, tentunya termasuk Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), menerima kewajiban puasa. Bahkan di dalam agama-agama non samawi, seperti Buda dan Konghucu, terdapat ajaran tentang menghindari makan dan minum, dan menganggapnya sebagai ibadahyang paling baik dan paling suci untuk membersihkan diri dan mencapai derajat maknawi yang tinggi. Dalam Taurat, Nabi Musa as mengatakan, "Di bukit Thursina, selama 40 hari 40 malam, aku tidak makan dan tidak minum."

Dalam kitab Taurat juga disebutkan bahwa pada umumnya, kaum Yahudi melakukan puasa ketika ingin mengakui dosa-dosa mereka dan menunjukkan kelemahan dankerendahan diri di depan Allah swt. Karena mereka yakin, dengan puasa dan taubat, mereka akan dapat memperoleh keridloan Allah. Dalam setahun, kaum Yahudi memiliki enam macam puasa wajib, dimana menurut keyakinan mereka, puasa yang paling penting dan paling suci ialah yang mereka sebut dengan nama Yom Kippur. Puasa ini dilakukan selama 25 jam.

Kitab Injil juga menyinggung tentang puasa yang dilakukan oleh Nabi Isa as selama 40 hari 40 malam. Dalam Injil Lukas, disebutkan, kaum Hawariyun, para pengikut setia Nabi Isa as, juga melakukan puasa. Di zaman ini, kaum Armenia gereja Ortodoks, berpuasa selama 40 hari, dan selama itu mereka menghindari makan daging dan segala macam bahan makanan hewani. Poin menarik untuk diperhatikan ialah, bahwa dalam semua agama ini, puasa mengandung arti mencegah dan menghindar. Dan filsafat ibadah ini ialah menentang hawa nafsu, memperkuat mental, dan membina jiwa untuk siap melakukan perbuatan-perbuatan baik.

Di bagan akhir sajian kami ini, kami ingin memperkenalkan kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian rakyat Iran, menyambut bulan Ramadlan dan di hari-hari bulan suci ini. Penduduk Iran di Mazandaran, sebuah propinsi di Iran utara, beberapa hari sebelum kedatangan bulan Ramadlan, telah melakukan berbagai persiapan. Mulai dari pembersihan diri, rumah, masjid-masjid dan tempat-tempat pengajian, hingga mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat makanan khusus di sepanjang bulan mulia ini.

Diantara makanan khas yang mereka sediakan di sepanjang bulan suci ini ialah sejenis bubur manis yang mereka buat dari tepung

Tanggapan Pembaca:

0 komentar:

Jasa Web Murah

Kabar UPI