13 Mei 2012

Hikmah Puasa di Bulan Ramadhan (Sesi 7)



Luqman Al-Hakim menyampaikan banyak nasehat dan petuah yang sangat berharga kepada putranya. Dalam salah satu nasehat kepada anaknya ini, beliau mengatakan, "Wahai anakku, dunia ini bagaikan lautan yang amat dalam, dimana banyak sekali manusia yang binasa di dalamnya. Untuk itu, buatlah kapalmu dari iman, layarnya dari tawakkal kepada Allah, dan bekalnya dari taqwa Ilahi. Jika engkau berhasil mengarungi lautan ini dengan selamat, maka yang demikian itu adalah berkat rahmat Allah. Sedangkan jika engkau binasa, maka yang demikan itu adalah akibat dosa-dosamu."

Di bulan Ramadlan yang penuh berkah ini, membaca Al-Quran memiliki keutamaan yang sangat besar. Selain itu, membaca Al-Quran dengan tadabbur, dengan merenungi dan mendalami makna serta kandungannya, akan membukakan pintu-pintu ilmu dan hikmah bagi pembacanya. Dalam pertemuan kita kali ini, kami ingin mengajak Anda untuk mempelajari sekilas makna dan kandungan yang terdapat dalam Ayat pertama sampai dengan Ayat keempat Surat Al-Mulk.

Allah swt berfirman yang artinya: "Maha Suci Allah yang ditangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kalian, siapa diantara kalian yang lebihbaik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Yangtelah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sama sekali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanganlah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah."

Dalam banyak Ayatnya, Al-Quranul Karim berbicara tentang berbagai segi keindahan sistim penciptaan dan mengungkapkan rahasia-rahasia langit dan bumi, matahari, bulan dan bintang-bintang, serta kehebatan penciptaan manusia. Sistim yang sedemikian hebat dan mengagumkan, yang menguasai langit dan bumi serta keajaiban-keajaibannya, merupakan tanda-tanda kagungan Allah swt. Dengan kecepatan tertentu bumi berputar pada porosnya, sekaligus juga berputar mengedari matahari, dengan kecepatan tertentu pula. Meski demikian, bola bumi ini sedemikian tenang sehingga menjadi tempat yang cocok untuk kehidupan manusia dan semua makhluk hidup.

Bumi dimana kita hidup ini, juga diciptakan sedemikian rupa, sehngga sesuai untuk diolah sebagai lahan pertanian; tapi pada saat yang sama, permukaannya sedemikian kuat dan kokoh sehingga manusia dapat mendirikan bangunan-bangunan yang tinggi dan megah. Di bagian dalam tanah terdapat berbagai macam barang tambang dan mineral serta sumber-sumber dan peralatan kehidupan bagi manusia. Telah berjuta-juta tahun lamanya, matahari terbit dari arah timur dan terbenam di arah barat. Terbit dan terbenamnya matahari ini sedemikian indah dan menciptakan berbagai keajaiban yang sangat menarik perhatian manusia.

Kehebatan penciptaan Allah swt, baik di langit, di bumi, di lautan, juga dalam diri manusia sendiri, sungguh sangat agung dan sedemikian jelasnya membuktikan kekuasaan Allah yang sempurna, sehingga manusia yang tidak mau mengakui keberadaan Allah swt dan keagungan-Nya dinyatakan sebagai manusia yang lebih rendah dari pada binatang ternak. Dalam Ayat lain Allah juga mengatakan bahwa manusia seperti ini adalah manusia yang buta dan tuli, sehingga tidak dapat dilakukan apa pun lagi terhadapnya.

Suatu kali terjadi musim kemarau dan paceklik menimpa kaum Israel. Nabi Musa as mengajak umatnya untuk pergi ke bukit Thursina guna berdoa meminta hujan. Sejumlah pengikut Nabi Musa pun datang ke bukit tersebut dan bersama-sama memanjatkan doa dan munajat kepada Allah swt. Namun setelah sekian lama, tak setetes pun air hujan yang turun, dan segala macam doa yang dilakukan, seolah tak ada gunanya. Nabi Musa as bertanya kepada Allah swt, apa gerangan sebab yang membuat doa mereka tidak terkabul.

Datang jawaban dari Allah swt kepada Musa as, bahwa di antara kalian terdapat seorang pemuda telah berbuat dosa yang membuat doa kalian terhalang sehingga tidak terkabul. Mendengar itu, Musa as menghadap kaumnya itu dan menyampaikan permasalahan yang sebenarnya. Setelah itu, si pemuda yang merasa dirinyalah yang dimaksud, karena dia menyadari keadaan dirinya, keluar meninggalkan warga yang bersama Nabi Musa itu. Setelah itu mereka kembali berdoa, dan hujan pun segera turun membasahi bumi yang telah sekian lama kering itu.

Tanggapan Pembaca:

0 komentar:

Jasa Web Murah

Kabar UPI