16 Mei 2012

Hikmah Puasa di Bulan Ramadhan (Sesi 8)


Seorang wartawan Swedia pernah menulis sebuah laporan khusus tentang bulan Ramadhan dan dampak-dampak positifnya, yang kemudian tulisan ini dimuat di koran Dagens Nyheter. Wartawan Swedia yang begitu tertarik kepada ibadah puasa bulan Ramadhan ini, menulis laporannya ini setelah mengamati kehidupan seorang keluarga muslim Swedia dan kegiatan-kegiatan mereka di bulan suci ini. Ia menulis sebagai berikut:

"Bulan Ramadhan bukan sekedar untuk berpuasa sebulan penuh, tapi ia adalah kesempatan untuk menjalin silaturahmi, mempererat hubungan kekluargaan dan persahabatan. Tentu saja bagi kaum muslimin, bulan ini adalah bulan untuk semakin meningkatkan iman dan amal ibadah. Suatu hari di bulan ini, keluarga Matis Hulemberg dan Sofi Ruznquist, serta keluarga Mansour Giguwic yang hidup di Swedia, bersama-sama pergi ke kota Landskrona. Tak lama setelah sampai di tujuan, matahari pun terbenam. Dan itu, bagi keluarga Mansour Giguwic yang muslim, dan menjalankan puasa di bulan Ramadhan ini, merupakan saat untuk berbuka puasa.

Dengan mengucapkan bismillah dan membaca doa pendek dengan suara perlahan dan dengan mimik wajah serta sikap yang tampak sangat khusyu', Mansour Giguwic, memohon kepada Tuhan agar menerima amal ibadah mereka. Kemudian ia dan anggota keluarganya,masing-masing meminum segelas air dan dua atau tiga butir kurma. Setelah berbuka, mereka pun berdiri menghadap ke arah Makkah dan melakukan salat. Dalam keadaan seperti itu, tampak sekali mereka tidak memperhatikan apa pun selain Tuhan mereka.

Besoknya, ketika pagi masih sangat gelap, dan semua orang tengah terlelap dalam tidur, keluarga Gegowic sudah bangun dan menyantap makanan. Rupanya itulah yang disebut sahur. Ketika berbincang-bincang dengan Gegowic, tentang kondisi umat Islam, pembicaraan mengarah kepada masalah terorisme. Gegowic meyakini bahwa peristiwa 11 September memberikan pengaruh yang sangat luas. Sebagian besar muslimin di Landskrona meyakini bahwa setelah peristiwa ini, tekanan terhadap muslimin semakin berat, dan status muslim di Swedia mendatangkan berbagai kesulitan besar. Namun kondisi seperti ini ternyata sangat berperan dalam memperkuat identitas Islam warga muslim di Eropa.

Wartawan koran Dagens Nyheter menambahkan, "Puasa bulan Ramadhan merupakan salah satu ibadah penting umat Islam. Selama waktu tertentu, mereka menjauhi makanan dan minuman. Selama berpuasa ini mereka berusaha menghindari segala macam bentuk cekcok dan pertengkaran. "Saya sedang berpuasa", adalah jawaban yang pada umumnya diberikan oleh muslimin untuk menjauhi perselisihan dan pertengkaran di bulan Ramadhan.

Saya bertanya kepada keluarga muslim ini, "Apakah menjauhi makan dan minum di sepanjang hari tidak menyusahkan kalian? Mendengar pertanyaan ini mereka tertawa manis. Salah satu diantara mereka menjawab, "Berpuasa membuat saya sangat gembira. Ketika menjalan puasa, saya menyadari bahwa saya tengah mentaati perintah Tuhan. Bagi saya perasaan seperti ini sangat nikmat rasanya."

Malam harinya, umat muslimin Swedia berbondong-bondong menuju ke masjid, untuk melakukan salat berjamaah. Menyaksikan hal ini, maka seseorang akan memahami, bahwa bulan Ramadhan bukan sekedar untuk tidak makan dan tidak minum. Tetapi bulan ini adalah bulan untuk berkumpul, salat bersama, dan menjalin persaudaraan satu dengan yang lain. Wartawan Swedia ini juga merasa takjub menyaksikan persamaan, kekompakan dan kerapian barisan jamaah salat.

Seusai salat, wartawan ini kembali menemui Gegowic dan bertanya berbagai hal tentang salat dan masjid, serta persatuan diantara umat muslimin, dan peran bulan Ramadhan dalam membina mental seorang muslim. Gegowic berkata kepadanya, bahwa selesainya bulan Ramadhan dan habisnya kesempatan untuk menjalankan puasa wajib, terasa sangat berat bagi kami. Karena di bulan inilah kami merasakan kedekatan kepada Tuhan dan keindahan hubungan baik diantara sesama manusia, lebih kuat dibanding bulan-bulan lain.

Mansour Gegowic menambahkan, bahwa Rasul Allah saww, Nabi besar umat Islam mengajarkan kepada kami, barang siapa dalam bulan Ramadhan ini tidak memperbaiki akhlaknya dan tetap menunjukkan sifat rendah dan kasar, dan mengucapkan kata-kata yang buruk dan kotor, maka puasanya bukanlah puasa yang sempurna, dan Tuhan tidak akan menerima puasa orang seperti ini.

Tanggapan Pembaca:

0 komentar:

Jasa Web Murah

Kabar UPI