28 November 2011

Sistematika Sholat Diperdebatkan Manusia, Apa kata Setan & Iblis ???


Sebelum masuk waktu sholat Isya, aku berkeliling melihat keadaan Mesjid, apakah ada sampah2 kecil yang berserakan atau mungkin tahi cicak yang jatuh dari loteng. Setelah mengambil sajadah baru dari lantai 2 (sajadah = gift from Jeddah) aku sholat sunnah dulu 2 raka'at sambil menunggu waktu sholat Isya berkumandang. Di depanku ternyata ada seorang bapak-bapak yang sudah duluan sholat 1 raka'at daripada aku, sebelum sholat aku sempat melihat jadwal untuk sholat Isya malam ini. Sehabis sholat sunnah, tiba-tiba aku dipanggil oleh bapak itu dan disuruhnya aku duduk di sampingnya, aku berfikir sejenak mungkinkah ada tingkah lakuku yang salah barusan ketika sholat ???aku berfikir di dalam hati melalui akal pikiranku. 
Alhasil ternyata bapak itu menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan dugaanku, beliau mengkritik pelaksanaan sholat yang ada di Mesjid kami, tentunya dengan berbagi argumen dan sumber landasan. Jujur aku terkejut, sudah hampir 3 tahun kurang aku mengabdi di Mesjid ini akan tetapi belum pernah ditegus atau dikritik semacam ini. Memang kritik itu bukan untuk diriku, akan tetapi untuk sistematis pelaksanaan sholat yang ada di mesjidku. Permasalahannya sepele kalau menurut pemikiranku, tetapi tidak untuk beliau, karena ini sangat berhubungan dengan kedisiplinan dalam melaksanakan ibadah kepada Allah, itulah yang ada di dalam pemikirannya.
Tak lama kami bercakap-cakap terdengarlah gemuruh suara adzan dari mesjid tetangga, kemunian tanpa berfikir panjang akupun berdiri dan pergi mengumandangkan adzan. Jujur selama mengumandangkan adzan banyak yang terpikir di dalam fikiranku, salah satunya yaitu hal-hal yang barusan kami bicarakan. Aku terfikir dengan sebuah kasus 6 tahun silam, pada saat aku masih di pesantren menuntut ilmu agama. Ada juga ikhtilaf mengenai al semacam ini, hal sepele menurutku, tapi bisa menjadi hal yang sangat besar ternyata dimata masyarakat awam.
Di dalam Islam banyak sekali pertimbangan yang aku gunakan dalam mengambil sebuah keputusan, aku juga tak yakin apakah ini karena ada pengaruh dari jurusan yang aku ambil sekarang untuk mendapatkan gelas magister, yaitu jurusan ilmu sosial, kenapa setiap aku ingin mengambil sebuah keputusan baik itu yang bersifat umum sekalipun aku selalu memikirkan efek sosial yang akan diakibatkannya. termasuk juga dalam memberiakn solusi  dalam permasalahan ini. aku mengatakan kepada beliau bahwasanya sistematis pelaksanaan sholat yang beliau ingainkan itu tidak bisa serta merta dapat langsung berlaku di hukum suatu adat aau kebiasaan, meskipun itu berhubungan dengan ranah hablumminallah, kita hidup tikak sendiri, kita hidup bersama-sama dan saling membutuhkan satu sama lainnya.
Terbesit dalam pemikiranku, mungkinkah setan dan iblis akan tertawa mwlihat aku saling beradu pendapat dengan beliau membahas hal yang mungkin tidak terlalu penting, menurutku hal yang paling penting itu adalah bagaimana kita itu sebagai makhluk yang bermasyarakat dalam mengajak tetangga kita untuk ke mesjid, beribadah bersama-sama. Masa kita kalah sama setan yang iblis yang selalu rukun tidak mempermasalahkan sesuatu yang dapat menjadi permasalahan kontra-sosial. 

[this is just mine mind]

Tanggapan Pembaca:

Jasa Web Murah

Kabar UPI