27 Desember 2011

Sadar Kalau Saya Bukanlah Siapa-Siapa Dalam Menulis


Menulis itu semestinya dalam keadaan sadar. Hal ini akan mempengaruhi permaknaan yang seyogyanya akan disampaikan oleh penulis. Dengan kata lain, kita harus sadar atas apa yang kita tulis, sehingga tidak asal tulis. Udah hampir 2 tahun saya mencoba melakoni dunia tulas tulis, sudah hampir beberapa buku dan artikel akan saya terbitkan, akan tetapi masih saja menunggu sesuatu yang akan terjadi untuk sebenarnya. Apakah itu sesuatu yang sebenarnya ???
Dalam prakteknya justru seringkali saya tidak sadar dengan apa yang saya tulis, apakah hal semacam itu yang dikatakan sesuatu yang sebenarnya ??? Pada awalnya memang saya berusaha menulis secara sadar dan nyata segala sesuatu yang pernah menimpa dir dalam kehidupan sehari-hari.. Tetapi selanjutnya, tidak sadar lagi. Setiap kalimat mengalir begitu saja. Adakah hal-hal yang mungkin membuat sebahagian kalangan terlukan denga tulisan saya itu. Tunggu saatnya akan tiba untuk hal yang mungkin terjadi.
Setiap selesai menulis sesuatu hal yang menurut saya perlua adanya pengrevisia terhadap kalimat-kaliamat yang mungkit dapat menusuk jantuk beberapa kalangan, tidak bosannya saya baca kembali tulisan yang susah saya tuliskan di dalam blog saya, akhirnya saya urungkan untuk mempublisnya karena sesuatu hal, sesutu pertimbangan yang saya putuskan karena sekarang saya tisak bisa idealis denga pemikiran saya sendiri. Terkadang saya baru sadar dan bertanya-tanya kepada diri saya sendiri,”Kok bisa ya saya menulis seperti hal-hal semacam ini? Sepertinya bukan saya yang menulis!” Sebenarnya apa sich maunya saya, akan dibawa kemana tulisan ini, atau akan dibawa kemana kebungkaman dan kebohongan ini.
Ada tulisan yang saya kutip full dari perbincangan saya dengan beberapa Pembantu Rektor sebuah Universitas swasta terkemuka di daerah saya. Sehabis bertanya jawab dengan mereka, begitu banyak pertanyaan yang harus saya jawab dengan keterbatasan keilmuan yang saya miliki, dan keterbatasan pengalaman yang pernah saya jalani. Terkadang juga saya menghadiri beberapa seminar, baik itu cakupan Nasional maupun Internasional sekadar hanya untik membatu dan menambah pembendaharaan kata yang mungkin bisa menjawab berbagai pertanyaan yang selalu ada didalam pemikiran saya. Seseorang yang mengaku berpendidikan tidak berperilaku berpendidikan meminta saya evaluasi diri. Evaluasi diri dengan segala sesuatu yang sama sekali saya tidak mengerti.  Bukannya saya berpikir picik, tapi saya tidak mau kalau kemudian saya jadi sasaran “politik pendidikan” bukan pendidikan politik. Semacamnya, saya bukan diperlakukan sebagai seorang pendidik yang seharusnya melahirkan calon-calon pendidik. Maka saya tanyakan permasalahan intelektual pendidikan ini kepada beberapa pakar pendidikan, baik itu pendidikan politik maupun politik pendidika itu sendiri, tapi apa yang saya dapatkan tidak sesuai dengan kenyartaan yang terjadi pada diri saya. Saya tahu, saya ini tidak ada apa-apanya di Mata Allah, tapi tidak di mata mereka, Di mata mereka yang berpendidikan tapi picik terhadap karakter dan perilaku pendidik itu sendiri. Kebersangkutan permasalahan ini tak mampu menunjukkan keberadaan sebenarnya dari sebuah tujuan pendidiakn yang sebenarnya. Akhirnya saya menolak memberikan alasan-alasan kongkritkepada mereka, saya harap mereka bisa berpikir selayaknya seorang  yang berpendidikan. 
 
[Source Penggalan Paragraf Buku Yang Belum Publish]

Tanggapan Pembaca:

Jasa Web Murah

Kabar UPI