05 April 2012

Anak Mencontek? Sobek Saja Kertas Ulangannya!

Penulis : Siti Mugi Rahayu | 05 April 2012

Bu Sofi, guru kimia membisiki saya , “Kemarin Andi nyontek, Bu”.
“Oh ya?”, saya bertanya kembali menunggu kepastian”Iya Bu, waktu ulangan”.
Andi adalah anak bimbingan saya kelas X SMA. Anak-anak tahu betul bagaimana kerasnya saya menentang kegiatan percontekan di manapun berada.
“Apa yang Ibu lakukan terhadap Andi ?”
“Saya ambil contekannya, lalu nilainya akan saya kurangi satu”.
“Oooh. Okelah kalau begitu. Nanti saya ajak bicara dia”.
Ibu Sofi punya kewenangan sesuai perjanjian dengan siswa tentang apa yang akan beliau lakukan jika anak kedapatan mencontek. Jika beliau hanya mengurangi satu, maka biasanya kalau saya akan menyobek pekerjaan siswa dan memberinya nilai nol. Nilai nol boleh mereka isi dengan remedial yang walaupun nilainya bagus dia hanya akan dapat nilai minimal saja.
Setiap guru menurut saya punya hak melakukan apapun demi perbaikan akhlak siswa. Saya mentolerir apapun boleh dilakukan terhadap anak-anak bimbingan saya asalkan bukan hukuman fisik atau tidak mendapat nilai sama sekali.
Anak mencontek tetap harus ditangani. Penanganannya bisa dengan beberapa cara :
Yang pertama, guru harus tegas di kelas. Jika memang kedapatan mencontek atau memberi contekan, maka berilah mereka sanksi. Makanya, perjanjian harus diberikan sebelum ulangan dimulai agar hukuman apapun yang diberikan sifatnya fair. Tanpa perjanjian, seorang guru hanya akan menjadi monster yang mengerikan. Kalau guru juga tidak tegas, siswa akan merasa menyontek adalah kegiatan yang boleh dilakukan.
Yang kedua, guru harus mengajak bicara anak yang mencontek secara personal. Tanyakan mengapa mereka menyontek. Ada kalanya karena terbiasa mencontek mereka akan selamanya terbiasa mencontek. Tidak lagi punya kepercayaan diri akan kemampuan sendiri. Tidak akan lagi mereka menghargai proses belajar itu sendiri. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan mental mereka. Ada kalanya juga kegiatan mencontek yang dilakukan adalah keterpaksaan karena dia mungkin saja tidak sempat belajar karena menunggu ibunya yang sedang sakit. Untuk kasus seperti ini, guru bisa memberikan keringanan pada siswa tanpaperlu diekspos kepada siswa yang lain.
Yang ketiga, guru harus terus tanpa jenuh memberikan pemahaman dan mengingatkan siswa untuk selalu menjaga sportivitas dalam pelaksanaan ujian. Bagaimanapun, jiwa persaingan harus tetap ditumbuhkan dalam diri mereka agar nantinya terbiasa bersaing sehat di manapun berada. Tanamkan pula nilai-nilai agama dalam setiap perjuangan yang mereka lakukan agar hasilnya barokah. TIndakan menyontek tetap tidak bisa diterima sebagai suatu kegiatan yang terpuji, karena pada dasarnya siswa telah membohongi banyak orang, termasuk dirinya sendiri.
Kebiasaan mencontek di waktu sekolah akan membentuk kepribadian dan watak pembohong pada saat dewasanya kelak. Mencontek adalah hal kecil, namun jika terbiasa dilakukan maka akan menciptakan koruptor-koruptor baru, pedagang yang tidak jujur, polisi dan jaksa yang tidak jujur, dan Negara yang penuh dengan kepalsuan. Lingkaran setan kebobrokan nilai yang seharusnya bisa diputuskan rantainya.
Seorang teman yang mengajar di sebuah sekolah internasional menceritakan bahkan di sekolahnya, setiap anak harus clear sebelum masuk ruangan. Pergi ke toiletpun harus diantar guru, bahkan tissue sudah disiapkan oleh petugasnya. Ketika anak sudah terbiasa jujur, maka kita bisa melatihnya dengan meninggalkan ruangan ujian. Insya Allah mereka akan tahu dan merasakan bahwa ada Yang Maha Melihat ada bersama mereka.


[Sumber : Kompasiana.com]


Tanggapan Pembaca:

0 komentar:

Jasa Web Murah

Kabar UPI