06 Mei 2012

Koq… Gue Dilahirkan Sebagai Orang Jelek?

Penulis : Kafi Kurnia | 06 May 2012 


133627377637793158
Ilustrasi/kompasiana (Shutterstock)
Suatu hari, di Tsim Tsa Tsui - Hongkong, saya tertegun melihat sebuah buku karangan Alastair Dougall, judulnya “BOND VILLAINS”. Sebuah buku kecil yang menceritakan semua musuh, bandit dan penjahat yang melawan James Bond diserial filmnya. Ketika saya membeli buku tersebut, teman saya tertawa. Dia bilang, saya itu aneh. Selalu suka yang berlawanan. Saya cuma tertawa saja. Komentar saya saat itu, seringkali dalam kehidupan ini, sisi yang satunya jarang terungkap. Dan menjadi misteri tersendiri. Buat saya, seringkali cerita itu melewati kehebatan lawannya. Siang itu akhirnya kami berdamai dan menutupnya dengan makan burung goreng di Sha Tin.
Seminggu kemudian, saat saya sudah kembali ke Jakarta, teman saya mengirim email. Tentang kisah hidup Danny Trejo. Seorang actor yang berwajah buruk. Badan penuh tattoo. Sehingga sering berperan menjadi bandit atau penjahat. Wajah dan bentuk badannya menjadi cirri persepsi kita tentang seorang bandit atau penjahat. Anda pasti melihatnya diberbagai film. Konon Danny Trejo, sejak kecil memang sudah keluar masuk penjara. Menjadi preman, brandalan, dan kriminal sesungguhnya. Dipenjara Danny Trejo sendiri seringkali memenangkan kejuaran tinju. Hidupnya sangat gelap. Penuh dengan petualangan didunia hitam. Danny sendiri, barangkali pada suatu titik hidupnya, telah menyadari sepenuhnya bahwa ia menerima takdir sebagai orang jelek dan memang hak dan kewajiban-nya untuk menjadi penjahat.
Namun, pusaran nasib Danny Trejo berubah. Saat ia bertemu dengan seroang sutradara film yang mengajaknya main flm. Mulanya ia ragu. Namun sang sutradara film meyakinkan Danny bahwa sebuah film tidak hanya seru ditonton karena jagoannya ganteng dan keren. Sebuah film membutuhkan bandit dan penjahat yang sama serunya dan sebanding dengan jagoan-nya. Maka akhirnya Danny Trejo menerima fatwa perubahan nasibnya. Ia lalu menekuni jalan hidupnya yang baru. Sebagai seorang actor film dengan spesialisasi bandit atau penjahat. Uniknya Danny Trejo begitu terkenalnya, sampai-sampai pada akhirnya dalam film Machete, Danny Trejo berperan sebagai jagoan.
Mentor spiritual saya, Mpu Peniti pernah memberikan wejangan. Kata beliau dunia ini penuh dengan ketidak sempurnaan. Apabila kita hanya mau menghargai semua yang sempurna. Maka kita akan kecewa berat dan menyalahkan banyak pihak. Kalau kita tidak hati-hati, kita juga akan menyalahkan sang Pencipta. Mpu Peniti menyuruh saya melihat semuanya. Dan semuanya adalah sempurna. Maka semuanya harus dimanfaatkan. Hanya kita yang berpikir kerdil dan mengejek semua yang kita anggap tidak sempurna, dan memasukan-nya dalam kategori buruk, jelek dan jahat. Padahal semuanya memiliki peluang yang sama. Bila kita mampu berpikir dalam totalitas yang satu. Semuanya sempurna. Kita akan menghargai kehidupan ini dalam nilai yang sangat jauh lebih tinggi. Kita akan puas. Kita akan bahagia.
Sayangnya, realita yang kita hadapi tidaklah selalu demikian. Teman saya, seorang psikolog bercerita bahwa, secara budaya, kita sebenarnya telah dipenjarakan berabad-abad. Lihat saja dongeng-dongen disekeliling kita. Selalu saja ada cerita tentang satu orang yang jelek dan buruk rupa mendambakan cinta dari satu orang yang cantik dan sempurna. Dongeng seperti “Beauty and The Beast”, adalah salah satu yang populer. Orang tua selalu menginginkan anaknya lahir dengan kesempurnaan yang penuh. Entah itu cantik dan atau ganteng. Masyarakat kita dipenuhi dengan stigma seperti itu. Salah satu diantaranya adalah obsesi sejumlah wanita Indonesia yang ingin punya suami orang asing. Bilamana ditanya motifnya, salah satu jawaban yang popular adalah - “ingin memperbaiki garis keturunan”.
Pernah disebuah restoran, saya menguping percakapan sejumlah suster, yang membandingkan kecantikan dan kegantengan anak asuhnya. Percaya atau tidak, mereka lebih semangat mengasuh anak yang ganteng atau cantik. Mengasuh anak yang “tidak ganteng atau tidak cantik” seringkali membuat derajat mereka turun. Mereka menjadi tidak semangat, terlebih apalagi bilamana sang anak juga bandel dan tingkah lakunya membuat sang suster lelah untuk mengaturnya. Yang menyedihkan adalah kalau satu keluarga memiliki beberapa anak. Dan percaya atau tidak, anak yang penampilannya paling kurang, seringkali menjadi korban. Kurang mendapatkan perhatian dan menjadi sumber konflik. Inilah kenyataan yang menyedihkan. Terjadi disekeliling kita setiap harinya. Terlebih dalam dunia khayal ala sinetron setiap harinya, dimana kita cuma disajikan tontonan tentang orang ganteng dan cantik, secara tidak sengaja, kita membuat vonnis terhadap dunia kita.
Beberapa hari yang lalu dalam sebuah tayangan televise, tentang diskusi calon presiden Indonesia 2014, seorang komentator, terus terang membandingkan kondisi fisik para calon presiden. Vonnis sang komentator adalah semata-mata fisik mulai dari tinggi badan, penampilan wajah, hingga aspek lainnya. Malah sang komentator mengatakan salah satu calon, “terlihat serem”. Dan calon lain “dilihatnya saja sudah tidak enak”. Sangat sulit kita menilai seseorang tanpa atribut fisik. Sangat sulit pula kita tidak menilai negatif dan memiliki kecurigaan terhadap seseorang, semata-mata juga karena penampilan fisiknya.
Beberapa minggu yang lalu, saya kehilangan salah satu teman sekolah saya ketika di SMA dulu. Ia meninggal karena stroke. Buat saya mungkin cerita ini adalah tragedi tersendiri. Teman saya, wajahnya tidak jelek. Lumayan. Tinggi badannya juga rata-rata. Hanya saja ia punya penyakit kulit yang akut. Wajahnya selalu berjerawatan. Tidak pernah sembuh. Sehingga banyak wanita yang terusik melihat wajahnya. Ia mengalami kesulitan berhubungan dengan wanita. Dengan rasa kecewa yang sangat tinggi, ia akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan sekolah. Kebetulan ia berasal dari keluarga yang cukup mampu. Maka mulailah ia melakukan perlawanan terhadap nasib dan takdirnya, dilahirkan dengan kondisi seperti itu. Ia sangat marah dengan dunia. Ia juga marah mengapa wajahnya seperti itu. Bertahun-tahun ia marah. Hingga akhirnya ia dikalahkan nasib. Ia gagal menikah. Lalu meninggal patah hati terhadap perlaku-an dunia ini. Tahun lalu ia mengalami stroke. Beberapa minggu lalu ia meninggal dengan setumpuk kekecewaan.
Teman saya yang psikolog, pernah memperlihatkan “social media”, didepan saya lewat computer jinjingnya. Ia mencari wanita diatas umur 40 tahun dan masih lajang. Maka muncul-lah sejumlah wanita, yang tentu saja jauh dari standar pemain sinetron di televise. Tiba-tiba saya merasakan kesunyian yang sangat dalam dari mereka. Bahwa mereka gagal menikah, semata-mata karena fisiknya. Memang cerita orang “jelek” seperti aktor Danny Trejo, tidak terjadi tiap hari. Danny Trejo boleh dikatakan sebagai perkecualian yang mendekati mujizat. Namun satu perkecualian ini harus cukup menjadi satu pelita yang menerangi jalan gelap dihadapan kita. Buddha mengatakan :”bahwa dunia ini adalah hasil pemikiran kita bersama”. Apa yang kita pikirkan, maka jadilah dunia ini seperti sekarang. Barangkali di hari suci Waisak ini, kita memberanikan diri bersama, untuk mengubah pemikiran kita secara total. Kita harus berani memberikan harapan baru untuk dunia dengan serangkaian pemikiran baru.Amitābha

Tanggapan Pembaca:

0 komentar:

Jasa Web Murah

Kabar UPI